Email Lowvi Caring From SDF : Memaknai
Rasa Sakit
Lowvi Caring<careforlowvision>
Sat, Jun 21, 2014 at
4:17 PM
Memaknai Rasa Sakit
Hal yang cukup menantang ketka kita harus mengatasi lupus seorang diri.bayangkan
seberapa sulitnya jika kamu adalah seorang ibu dari 2 orang anak yang masih
sangat muda.
Ini adalah kisah nyata, 20 tahun yang lalu, Chin Lian Son (48), harus
melalui hari-harinya dengan rasa sakit. Hal itu seperti pukulan yang keras
untuk ibu muda yang sehat dengan karunia 2 anak berusia 7 tahun dan 4 tahun.
Pengaruh penyakit ini sangat mengganggu awalnya. Dia mengalami rasa
sakit yang berulang-ulang sampai hampir bunuh diri. Ibu yang sangat berdedikasi
ini sadar bahwa dia tak akan bisa menghabiskan waktunya dengan kedua anaknya
dirumah karena sia harus dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lama.
Tidak yakin akan masa depannya, dia berusaha pulih secepat mungkin dan
mempersiapkan anak-anaknya agar menjadi anak yang mandiri untuk berjaga-jaga
jika dia tidak dapat ada disamping mereka hingga mereka dewasa. Karena
usahanya, kini anak-anaknya menjadi anak yang mandiri dan menjadi
individu-individu yang bertanggung jawab seperti yang ia banggakan.
Chin masih melakukan pengobatan untuk kesembuhannya, namun ia sudah
menerima kondisinya. Dengan dukungan dari sang suami, dia menjadi pribadi yang
nyaman akan penyakitnya dan berharap semuanyanya akan kembali baik pada
akhirnya. Inilah ceritanya :
Ketika lupus pertama kali menyerang, awalnya fikiranku terpusat pada
kedua anakku, mereka masih sangat muda, dan sebagai ibu aku merasa ada
kegagalan dalam hidupku. Jika mereka ingin pergi ke kebun binatang, aku tidak
bisa menemani mereka karena sakit. Mereka tidak bisa merayakan ulang tahun
mereka karena aku terbaring di rumah sakit.
Aku berprasangka bahwa kekambuhanku yang pertama dipicu oleh piknik di
pinggir pantai, karena setelah itu aku mulai merasakan sakit perut dan bercak
merah mulai timbul di wajah dan sikutku. Sakitku ini sudah banyak salah
diagnosa oleh beberapa dokter yang berbeda. Aku bahkan pernah melihat fengshui
cina yang kemudian menyatakan diriku terkena sakit flu yang parah.
Ketika didiagnosa gagal ginjal dan setelah dilakukan biopsi dan tes
medic berkali-kali aku dinyatakan positif lupus. Pada mulanya aku tidak tahu
apa itu penyakit lupus, namun aku menyadari bahwa aku harus mengetahui lebih
banyak tentang hal itu, akupun mulai membaca banyak jurnal dan buku. Aku ingin
bersiap-siap untuk mengerti atas apa yang telah terjadi kepadaku.
Anak-anaku masih sangat muda, dan aku tahu aku harus mempersiapkan
mereka untuk skenario yang terburuk. Bagaimana bila sesuatu buruk terjadi
padaku? Anak perempuanku berumur 7 tahun dan anak laki-lakiku baru berusia 4
tahun. Prioritasku adalah untuk memastikan mereka akan dapat bertahan hidup
meskipun tidak ada aku disamping mereka, jadi aku tidak pernah lelah
mengajarkan mereka untuk berdiri sendiri.
Dampak dari penyakit ini sangat berat. Tubuhku berada dalam kesakitan
yang luar biasa, dan morphine adalah satu-satunya obat yang dapat memberikan
sedikit kenyamanan. Bunuh diri terasa bagaikan jalan yang termudah untuk saat
ini karena aku tidak dapat menahan rasa sakitnya.
Suamiku adalah kekuatanku selama masa-masa sulit itu. Dia membicarakan
hal-hal yang membuat aku bersemangat dan membuat aku ingin banyak bersyukur.
Aku harus menghitung rahmat Tuhan untukku, anak-anakku dan suami yang
mencintaiku tanpa syarat.
Keluargaku juga menunjukan kasih sayangnya padaku meskipun cara mereka
menunjukannya terkadang mengecewakanku. Mereka ingin membawaku ke setiap sesi
doa sekalipun caranya seperti menduakan Tuhan. Ini adalah saat-saat dimana kami
mencoba segala usaha meskipun sudah lelah, aku tidak menginginkan apapun
kecuali terlelap dirumah dengan sangat damai.
Pada akhirnya, aku menyadari betapa bodohnya jika aku depresi setiap
waktu. Dalam hidup, kamulah yang menentukan pilihan yang kamu buat. Kamu dapat
memilih untuk sedih, atau memutuskan untuk menghargai kebaikan yang dimiliki
dan menjadi senang dengan sendirinya.
Denagan sangat mengejutkan, titik baliknya datang ketika rasa sakitnya
berada di puncak. Aku ingat, aku pernah tak sadarkan diri dan dokter yang
memeriksaku mengatakan bahwa tekanan darahku sangat rendah dan denyut nadiku
terus menurun. Selama masa-masa itu,
ketika aku membayangkan keluargaku pasti merasa sangat bingung dan para dokter
juga suster sangat berusaha mati-matian untuk menyelamatkan nyawaku, aku
mengalami mimpi yang sangat damai.
Aku bermimpi bertemu Tuhan di surge. Dia membawaku berjalan-jalan ke
surge dan neraka, kemudian Dia memberitahuku bahwa ini bukan saatnya aku untuk
pergi dari dunia. Kemudian mimpiku berakhir.
Meskipun begitu, mengatasi penyakit tetaplah tantangan, terutama
setelah ginjalku terserang dan setiap hari aku harus pergi untuk cuci darah.
Aku dapat marah dengan sangat mudah. Sangat membuatku frustasi jika aku
memikirkan kenyataan bahwa aku harus merasakan sakit selama sisa umurku. Aku
merasa muak.
Tapi, kenyataannya dari masalah ini adalah kamu harus menjalani hidup
dan tetap bertahan. Setelah semua yang terjadi, kamu tak akan tahu apa yang
akan terjadi besok dan hari-hari setelah itu, dan bahkan tahun-tahun
setelahnya. Kenapa harus khawatir? Hidup itu terlalu singkat untuk memikirkan
hal-hal yang tidak menyenangkan. Hikmahnya adalah penyakit ini membuatku jauh
lebih menghargai kehidupan. Dan membuatku mengingat-ngingat anugerah yang
diberikan Tuhan padaku yang tak terhitung banyaknya.
Ketika anak-anaku sudah lebih besar., aku pergi untuk transplantasi
ginjal di Guangzhou, dan sukses J. Jadi meskipun penyakit ini terlihat seperti
menguasai hidupku tetapi aku harus
mencari jalan untuk meringankan ketidaknyamanan dan hidup senormal mungkin.
Sesuatu bisa saja terlihat sangat sulit, tetapi jangan mengasumsikan
hal itu sebagai akhir dari dunia. Pengobatan mungkin saja merubah penampilanmu,
tapi itu hanyalah kondisi yang sementara. J lagipula, dunia sudah semakin
canggih, tinggal tunggu waktu, seseorang akan menemukan cara penyembuhan
penyakit lupus. Harapan itu selalu ada J
Mitos :
Lupus sangat mudah didiagnosa
Fakta:
Dokter perlu lebih jauh meneliti tentang kondisi, sejarah medis, dan
melakukan beberapa tes kepada pasiennya untuk mendiagnosa. Lupus tidak dapat
didiagnosis dengan hanya menggunakan satu jenis tes.
No comments:
Post a Comment